Stroke

Udah hampir satu tahun ga bikin post apapun. Padahal perkembangan anak-anak buanyak. Milestones nya bejibun, tapi mood enak ga muncul muncul.

Dimulai dari 25 April 2015. Setelah cape banget, bubaran acara Paskah BIA Pangkalanjati, gua cek HP, isinya nyokap dibawa ke RS karena dugaan stroke. Badan yang tadinya udah rontok, kemimpi kasur, harus tegak lagi, siap-siap ninggalin anak-anak sama bapaknya, trus nginep di RS.

Intinya dari malam itu adalah mimpi buruk. Nyokap beneran stroke, kenanya tubuh bagian sebelah kanan, dan harus dirawat dulu. Ngikuti perasaan sebagai anak, rasanya ingin tinggal di RS dan ngurus nyokap sampai pulih. Tapi apa daya masih punya anak kecil kecil, anak gua yang bontot aja masih nyusu. Akhirnya, pagi menjelang siang, gua pulang.

Long story short, lewat setahun dari kejadian tersebut, we never recovered. ‘We’ disini artinya adalah gua sebagai anak dari keluarga, dan kita sebagai keluarga ga pernah pulih. Kejadian dari situ berputar kayak badai tornado, dan semua yang dilewatinya hancur berantakan, sampai lewat dititik nol.

Ada banyak artikel yang dibagikan teman-teman di sosial media, mengenai penanggulangan terhadap serangan stroke, mulai dari pencegahan, sesaat sesudah terserang dan pasca stroke. Di cari lewat mesin google pun banyak. Oleh karena itu, gua hanya coba berbagi bagaimana pasien stroke berjuang menjalani kesehariannya, disertai beberapa tips yang mungkin bisa berguna.

Pertama. Stroke terjadi karena ada penyumbatan di dalam aliran darah. Sehingga, begitu ada dugaan anda terserang, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah segera cari pertolongan medis. Kalau sendirian, segera cari orang rumah atau tetangga, dan minta dibawa ke UGD RS terdekat.

Nyokap cerita, bahwa nyokap merasa ga enak dan mulut menyong itu sekitar jam 4 sore, tapi oleh bokap dibawa ke RS udah malem, sampai RS udah 21.30 WIB (damn you, pa! I actually cry while I’m writing this word)

Kedua. Banyak orang, kena stroke ataupun ga kena stroke selalu bilang suasana UGD dan atau suasana RS selalu bikin stres. Bayangkan orang yang terkena stroke, dimana dia ga bisa menggerakkan separuh anggota tubuhnya, masih harus menghadapi stres di UGD dan atau RS (belum juga mikirin biayanya ya kan) Kalau kita yang harus menemani keluarga kita yang kena serangan stroke dan dirawat, langkah yang perlu kita lakukan adalah berusaha sebaik-baiknya menenangkan anggota keluarga kita yang sedang sakit.  Kejadian dengan nyokap, malah nyokap yang harus berusaha agar bokap tenang. Detail kejadian nyokap dirawat dua minggu di RS itu kelam, dan kalau gua inget tiap kata2 dari nyokap yang menceritakan ulang, yang ada airmata bisa turun terus dan hati ini terasa sakit ditusuk-tusuk.

Ketiga. Pasien stroke yang pulang dari RS itu bukan seperti pasien pada umumnya. Karena, masa pemulihan pasien stroke bisa hitungan bulan, tahun atau bahkan ga pernah pulih seumur hidupnya. Oleh karena itu, ada perubahan semi permanen terhadap situasi keluarga dirumah yang menyambut pasien paska serangan stroke.

Apa saja yang berubah? Almost anything!

Apapun yang biasa dikerjakan oleh pasien stroke itu, harus dicover oleh orang lain, dan juga akan ada tugas tambahan baru sehubungan perawatan pasien itu. Misalnya, dalam kasus gua, yang kena stroke itu nyokap. Selama ini, nyokap adalah orang yang masak, yang bersih rumah, dan ngelayani hampir segala kebutuhan (baca: keinginan) bokap. Sehingga, disaat nyokap pulang dari RS, bokap harus ambil alih semua tugas nyokap, ditambah tugas baru yaitu merawat nyokap. I can not explain which are more painful, is it to see her could not do her usual daily routines, or is it to see him failed as husband, as dad, or even as a person?

Keempat. Ada lebih dari sekedar persiapan mental seperti yang gua sebut di poin tiga. Kita juga harus mikir beberapa hal, persis seperti menyambut kepulangan bayi, walaupun mungkin tergantung tingkat keparahan serangan stroke masing-masing individu ya. Tapi, ada beberapa hal yang tadinya ga penting, menjadi penting. Contohnya, masalah letak tempat tidur, jangan yang dilantai. Masalah toilet, jangan yang toilet jongkok. Masalah baju, jangan yang model T-shirt tapi baiknya model kemeja. Dan lainnya dan lainnya dan lainnya. Rumah, perabot dan pengaturan juga baiknya mulai menyesuaikan dengan kondisi baru pasien  paska stroke. Jangan ada karpet yang bisa membuat tersandung. Atau kursi yang tidak aman menyangga duduk.

Kelima. Pasien paska stroke membutuhkan terapi fisik, segera. Catat, SEGERA. Jangan tunggu lama untuk mencari informasi bagaimana cara menstimulasi fisik para pasien paska stroke. Semakin cepat mulai terapi, semakin cepat pulih. Terapi yang dilakukan jangan hanya saat sedang ditangani terapis, catat TERAPI JANGAN HANYA SAAT SEDANG DITANGANI TERAPIS. Mulai dengan meluruskan segala yang bengkok, walaupun intinya, jangan membiarkan tangan dan atau kaki dan atau punggung dalam keadaan tertekuk atau lurus terus menerus. Gerakkan terus menerus., sembari mengukur denyut jantung sebelum dan sesudah terapi. Catat, MENGUKUR DENYUT JANTUNG SEBELUM DAN SESUDAH TERAPI.

Keenam. Stroke tidak hanya menyerang bagian tubuh yang jelas kelihatan, tapi juga yang tidak terlalu kelihatan, semisal lidah, jantung bahkan organ pencernaan. Sehingga, pasien paska stroke bisa saja mengalami gampang tersedak, atau sembelit, atau jantung lemah. Memberi makanan, penanganan BAB, dan juga penanganan terapi harus memperhatikan masalah-masalah disebut diatas. Selain itu, masalah psikologis pun berpengaruh. Pasien paska stroke bisa banget jadi terlalu sensitif, terlalu cepat putus asa, merasa terpuruk bahkan sampai tidak mau berusaha apa-apa. Tetapi, di satu sisi, bisa jadi perawat pasien nya yang mengalami masalah psikologis di atas. Gua merasakan sendiri bahwa masalah psikologis diatas terjadi pada pasien dan perawatnya, yaitu pada nyokap dan gua. Hal terakhir yang dibutuhkan pasien paska stroke adalah berada dekat-dekat dengan orang yang tidak stabil emosinya, karena keadaan emosi yang naik dan turun terlalu ekstrem mempengaruhi tekanan darah, yang mana pada akhirnya memperlambat kesembuhannya, bahkan membuat pasien paska stroke terkena resiko serangan stroke kedua kali. Thanks to him, her recovery was very slow, her daily life was stressfull, and yet he never apologized to her for everything that had happened.

Ketujuh. Perkembangan fisik dan mental harus diperjuangkan. Jangan biarkan pasien paska stroke dilayani terus menerus. Setiap saat selalu tingkatkan level kemandiriannya. Kalau sudah mulai bisa pegang sendok, biarkan dia makan sendiri. Kalau sudah mulai bisa bangun dari tempat tidur, biarkan dia berjuang sendiri untuk bangun. Kalau sudah bisa belajar berjalan, biarkan berjalan tanpa dipapah, dan jangan biarkan dia selalu didorong-dorong di kursi rodanya. Sertakan pasien paska stroke dalam kegiatan keluarga sehari-hari, dan kalau ada, libatkan anak-anak dalam kesehariannya agar lebih semangat.

Terakhir, sebagaimanapun kerasnya perawat pasien berusaha, semuanya kembali kepada pasien itu sendiri. Kalau perawat pasien kebetulan adalah anak, atau keluarga dan bukan orang yang disewa untuk merawat, maka cobalah lebih berlapang dada, jangan menyalahkan diri sendiri dan usahakan berdamai dengan kenyataan yang ada. Satu hal paling penting adalah, jangan sampai menelantarkan apa yang menjadi tanggung jawab perawat pasien, semisal pasien punya suami dan anak-anak.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s