Ranking 27 out of 37… and PROUD

Habis bagi rapor kemarin-kemarin, si boy dengan santai bilang ke orang-orang gini, “aku rengking 27”. Ngomongnya lempeng aja gitu ga pake beban, bikin geli. Kapan waktu itu abis dia ngomong, ada ibunya temen kelas dia sampe hampir keselek. Hahaha. Mungkin dipikirnya, ranking segitu mah harusnya diem diem aja.

Gua sih cuek aja, bahkan dari awal masuk sekolah, gua ga pernah permasalahin ranking, gua ga pernah nanya malah. Selalu gurunya yang inisiatif kasih tahu. Mungkin karena kita santai aja, maka si boy pun santai aja masalah ranking, ga malu untuk kasih tahu ke orang-orang.

Kebetulan Omanya dulunya guru SD. Dan dari beliau lah gua tau bahwa ranking itu ga sekedar nilai baik aja. Urutan ranking itu salahsatunya ditentukan oleh mata pelajaran agama, bahasa indonesia dan pkn.

Jadi kalau si A punya nilai keseluruhan lebih baguspun belum tentu rankingnya lebih tinggi dibanding si B yang nilai keseluruhannya lebih rendah tapi punya nilai lebih tinggi khusus di tiga mata pelajaran tersebut. Pusing? Banget. Siapa suruh mikirin, old fashioned banget sih mikirin ranking!

Hari gini, harusnya tuh kolaborasi sehingga 1+1 bukan 2 tapi 10. Belum lagi menyoroti kemampuan anak mengelaborasi materi. Jangan taunya hanya ngisi LKS aja.😥 *pengen nangis Udah 4 semester ini, kadang masih suka galau kalau baca buku teks pelajaran yang ga mutu, atau kalau lihat kualitas soal ulangan kelas. Itu belum bahas kualitas pengajar dan pola interaksi teman ya. Fidel masih belajar dari buku My Pals Are Here.

Dan, betapa sedihnya kalau dibandingkan kualitas buku teks pelajaran sekolah. Ambil contoh matematika. Pelajaran kelas dua, fokus beratnya adalah perkalian 1-10. Dimana yang ditekankan adalah menghafal, gua ulang ya, MENGHAFAL, perkalian 1-10. Jadi, soal-soal yang dihadapi itu kayak refrain lagu suram. Anak lebih banyak ga pake mikir, yang penting hafal aja dulu.

Sementara dari Math nya My Pals Are Here, untuk grade 1 bagian B, sudah diajarin picturegraph. Anak sudah diajari membaca, interpretasi dan mengolah data. Statistik sederhana. Penting banget gak sih itu? Penting, period!

Selama 4 semester ini, si boy juarang banget belajar. Pelajaran bahasa indonesia, ga pernah gua suruh belajar lagi dirumah. Pelajaran hafalan macam PKN, IPS, PLBJ bahkan IPA, hanya kalau mau UTS dan UAS aja.

Bahkan UAS terakhir mau kenaikan kelas, dikasih libur seminggu bukannya belajar malah main melulu, belajar hanya sehari sebelum ulangan dan paling lama satu jam, itu juga cuma tanya jawab ringan aja. Kenapa? Pertama, karena sebagian materi ga relevan dengan kebutuhan perkembangan pendidikan anak. Kedua sebagian materi terlalu berat, sehingga yang mampu ditampilkan dan disebar sebagai bahan ajar malah jadi absurd kalau untuk dipelajari. Ketiga, pelajaran yang relatif ga berguna seperti itu kalau terlalu diulang dan dibahas akan menghabiskan energi, semangat dan kreatifitas anak. Keempat yang paling penting: anaknya susyahhh disuruh belajar. Jawabnya selalu gini, “ah kan udah belajar di sekolah, bosen” duh Gusti. Ya udahlah ya, cukup di sekolah aja.

Itu poin-poin sotoy seorang ibu, yang menilai berdasarkan hati. Para pendidik, tenaga ajar, penyusun materi dari diknas, pasti punya argumentasi kontra, yang tersusun baik dan kuat terhadap sudut pandang gua. Ngomong-ngomong soal menilai berdasarkan hati, diantara sekian banyak keprihatinan atas kualitas bahan ajar dan pengajaran di sekolah, ada juga rasa bersyukur bahwa si boy bersekolah. Selain urusan akademis, ada hal hal lain yang urusannya pakai hati, dan amat sangat gua syukuri. Pertama adalah, kenyataan bahwa kita, ga hanya si boy, kita sekeluarga merasakan kasih sayang dan persahabatan yang tulus dari teman, guru, orang tua murid, bahkan satpam dan tukang parkir. Kedua, kenyataan bahwa Fidel amat sangat menikmati bersekolah, membuat kita orangtuanya berkompromi. Apa yang kita mau dan kita pikir yang terbaik untuk anak, teryata anak kita mau dan berpikir kebalikan dari kita.

Kasus yang biasa terjadi kan biasanya begini, misal setelah 15-20 tahun biasa dituruti anak, maka saat anak diharapkan mendaftar untuk kuliah kedokteran seperti harapan orangtuanya, eeh ternyata si anak pilih jadi seniman atau jadi enterpreneur atau lainnya. Itu misalnyaa. Kalau dari sudut pandang gua, enak doong, udah 15-20 tahun apa maunya terhadap anak selalu keturutan. Anak diikutkan les musik, dia harus nurut. Les pelajaran, harus nurut. Harus ini itu, anak harus nurut. Setelah itu gantian anaknya yang keturutan. Lah, kok gua baru juga jalan 6 tahun, eh anaknya udah berontak. Ini aja agak kepikiran, kalo si boy tiba tiba bosan les piano. Buyar dah. Duh, ngurut dada, harus siap. Anakmu bukanlah anakmu, kalo kata the famous mister Gibran. Pada akhirnya, walaupun kalau boleh berharap sebaliknya, tetapi gua akhirnya memilih merayakan kebahagiaan si boy yang maunya bersekolah. Ini foto-fotonya si boy di tahun kedua bersekolah.

Saat ikut partisipasi tugas koor gereja

Saat ikut partisipasi tugas koor gereja

IMG_20141123_103918

Tergabung di Vincentius Choir waktu lomba koor antar sekolah

Tergabung di Vincentius Choir waktu lomba koor antar sekolah

Wajah bahagianya bersama sebagian temen sekolah -xoxo-

Wajah bahagianya bersama sebagian temen sekolah -xoxo-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s