Mengawali 2015, semuanya diborong

Awal Maret 2015, baru bisa elaborasi apa yang menjadi goals dan objectives tahun ini, sebagian kita coba dokumentasikan di blog ini. Better late then never kan yaa.

Pertama, dua bulan pertama di tahun 2015 diawali dengan padatnya acara Natalan. Kesannya sepele banget ga sih, tapi ternyata kalau terlibat langsung itu capeknya luar biasa bo. Akhirnya, setelah acara kelar, dilanjut dengan estafet sakit keluarga, yang mana kalo buat ibu yg rangkap nyusuin dan ngasuh si batita, guru les dan bestfriend si preteen, dan juga sebagai istri yang bijaksana(cengenges), itu bukan estafet lagi namanya, tapi jadi maraton sakit keluarga, huehuehuehue.

Ditambah bonus, dimulai bulan Desember 2014 kemarin, si preteen sibuk ikut lomba choir sekolah, dilanjut konser piano dari tempat lesnya, lalu awperform dadakan di acara Natalan. Jadi terasa banget maraton sibuknya yaa..

Ditengah kesibukan itu, pergantian tahun bisa dibilang lewat gitu aja, menyebabkan gua merasa burnt out.

Tapi, gua merasakan bahwa gua burnt out justru baru minggu lalu, pada jam 5 pagi, lagi buru buru turun kebawah mau ngejar beli lele hidup di tukang sayur. Biasanya gua pilih dulu sayuran, ikan dan ayam yg mau dibeli(bayar dan ambil barang nanti agak siang), lalu pulang buat siap siap sebelum si preteen berangkat sekolah, lalu jaga jaga kalau si batita kebangun minta nenen. Saat itu masih gelap, udara masih enak, jalanan sepi, tapi gua yang ngos ngosan karena ngepot mau ke tukang sayur, dan baru gua sadar bahwa gua menjalani rutinitas begitu saja, dengan antusiasme yang tidak sama dibanding saat si preteen sedang homeschool.

Tapi, gua sadar banget, ga boleh terus melihat ke belakang. Walaupun kadang stress karena jadwal sekolahnya yg padet, si preteen selalu gembira saat hari libur dan juga hari sekolah. Gua menilai, bahwa dia menikmati hari libur dan hari sekolah.

Misalnya, dia stress menghadapi soal matematika perkalian, tapi sepertinya kesenangan crafting bersama temen temennya saat pelajaran sbk memberi keseimbangan antara enak dan ga enak, dan ditambah segala pelajaran olahraga yang mengasyikan itu, si boy ga pernah sudi melihat lagi ke belakang.

Kapan hari bapaknya ga bisa jemput krn stuck ditempat lain, akhirnya gua jemput naik taksi terlambat satu jam dari biasanya, sampe sekolah gua justru menemukan dia sedang asyik main sama temen temennya, walaupun dia langsung high five sama temennya pamitan pulang saat lihat kita. “Pulang dulu, broh” gitu katanya sembari handshake dengan gaya.

Menyaksikan hal-hal kecil seperti itu dalam hidup, tak ternilai rasanya. Terutama karena, setelah si preteen sekolah, salah satu hal yang berat buat gua adalah merasa bahwa sekolah semacam mengambil separuh dari hidupnya.

Walaupun mungkin kenyataannya, pergi sekolah mungkin yang terbaik untuknya, terutama karena dia sendiri yang memintanya.

Oleh karena itu, pelan pelan gua merasakan antusiasme menurun dan rutinitas masuk dan mengambil ritme hidup gua.

Perjalanan singkat di saat hari masih gelap itu bisa dibilang pengingat yang manis, bahwa biar hal ga berjalan sesuai mau kita, tetap kita jangan membiarkan diri teralihkan dari tujuan kita, ciye ciye bijaksana ceritanya.

Sehingga, menyiasati jadwal sekolah yang gila-gilaan, biar gua tulis di blog sebagai pengingat diri sendiri, maka untuk tujuan kita yaitu meningkatkan kualitas kita sebagai fasilitator perkembangan pribadi anak-anak, maka tahun 2015 ini kita berupaya untuk:

1. Menambah waktu membaca buku bersama dimalam hari sebelum tidur. 2. Mengurangi waktu ngemal tanpa tujuan.
3. Membuat rutin acara makan diluar untuk variasi, untuk memfasilitasi sesi sharing istimewa.
4. Menambah variasi jenis makanan yang dimasak dirumah, pelan pelan anak anak akan diminta bantu.
5. Menambah aktivitas diluar rumah, mungkin bisa dimulai dengan menanam sayur di kebun belakang. 6. Mengurangi belajar bahan pelajaran sekolah, biar anak ga jenuh.
7. Memulai proyek karya tulis sederhana tentang suatu topik. Khusus yang ini, kita udah pernah coba, dan cukup menarik, mungkin akan gua dokumentasi di blog. 8. Memulai membuat review atas buku-buku yang dibaca bersama.
9. Mencari cara meningkatkan kemampuan didalam mengurangi dan mengolah sampah secara bersama-sama.
10. Menambah waktu latihan piano bersama, mungkin akan menambah lagu-lagu diluar daftar lagu dari Yamaha Music.
11. Mencari rutinitas baru yang bisa dilakukan sebagai satu keluarga, semisal rutin berenang, rutin ke perpustakaan nasional, rutin sepedaan, rutin mancing di empang belakang, yang mana yang dipilih belum dicoba dan diputuskan.
12. Menambah peran serta keluarga di lingkungan agama, sejauh ini kita udah aktif di acara Bina Iman Anak dan juga koor anak, tapi kita masih akan terus mencari cara untuk lebih terlibat.
13. Meningkatkan intensitas pengisian blog ini, hehehehe, intensitas pengisian blog ini berbanding terbalik dengan intensitas kesibukan gua mengurus si batita yang semakin besar semakin banyak mau.

Mungkin cukuplah ya ada 13 objectives sementara ini, dan semoga goal yang ini tercapai, amin.

Kita juga punya beberapa tujuan lain, tapi yang paling spesifik dan paling berarti buat kita, baru yang udah dielaborasi diatas. Lainnya, ada yang ga begitu penting, juga rahasia, kekekekekkkk, mungkin akan kita share lain waktu yaa..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s