Japan Education Festival Indonesia 2014

Kuliah keluar negeri selalu menjadi topik yang menjual. Berkali kali pergi ke pameran pendidikan tujuan luar negeri, kesan yang didapat adalah, kuliah keluar negeri relatif mahal dan eksklusif. Berapa kali kita ketemu rombongan anak SMA yang dateng kepameran atas kerjasama penyelenggara dengan pihak sekolah. Dan sekolah-sekolah yang berpartisipasi jelas bukan sekolah sembarangan, paling engga sekolah yang franchisenya terkenal sepulau jawa, kekekekekk

Tapi sekarang bukan itu tujuan utama kita sekeluarga selalu datang kesana.

Tentu aja kita berharap anak-anak bakal punya kesempatan kuliah diluar negeri, tapi setelah dateng terus menerus ke banyak pameran pendidikan luar negeri, kita sadar bahwa yang lebih penting lagi buat kita adalah bagaimana anak-anak terinspirasi dari situ, bagaimana menuntun anak-anak menuju impian mereka dan konsisten terus maju. Pilihan tujuan itu buanyak, dari yang paling dekat di Singapura, lalu Australia, Eropa sampe Amerika. Biar mereka yang menentukan nantinya, kita cuma berharap kalau duitnya ga cukup, mereka bisa inisiatif dan kreatif cari beasiswa, hahahahaha

Semakin kita sering mengunjungi pameran sekolah dan kuliah keluar negeri, justru kita semakin yakin, bahwa belajar dimana aja sama, yang beda cuma gengsinya aja. Dang!

Pameran pendidikan Jepang yang kita dateng kemaren itu, menjual beberapa hal penting, salah satunya adalah bahwa di Jepang itu aman, ga ada tawuran dan juga ga ada narkoba di dalem kampus. Pokoknya, suasananya mendukung banget untuk proses belajar anak. Ditambah, anak akan merasakan hidup di dalam melting pot yang ideal, ketemu berbagai macam suku, ras dan agama di dunia, dengan suasana yang relatif bebas diskriminatif SARA. Dan ofkors dong, sekali lagi gengsinya!

Lucu juga sih ya, dimana banyak universitas didunia, bahkan universitas ternama didunia kek Stanford misalnya, berlomba-lomba menyempurnakan program distance learning, online learning mereka, yang sistemnya open and free. Justru kita di Indonesia dijejali dengan ide-ide usang, tentang sekolah diluar negeri yang biayanya ratusan juta rupiah, dan pamerannya diselenggarakan di hotel berbintang. Sementara kalau tentang scholarship dan fellowship infonya cuma berjalan by online, (tentu dong kan ga ada duidnya buat penyelenggara aka EO)

Dunia lagi banyak mengusahakan berjalannya cara belajar yang gratis dan fleksibel, sehingga setiap orang hanya butuh akses internet dan kemauan. Contohnya, gua lagi ikut online learning Stanford mengenai Child nutrition and cooking, yang gua dapet melalui Coursera. Seru banget, dimana ibu-ibu rumah tangga yang punya anak kecil kayak gua, hanya punya waktu malem hari, ga perlu ninggalin anak buat belajar, krn cukup depan komputer aja. Ditambah lagi ini semua gratis, bisa dapet verified certificate dari kampus (kalau mau), dan yang paling asyik menurut gua adalah kita bisa pilih belajar materi apa aja yang menarik minat kita, dan bukan materi yang perlu dikuasai untuk mendapatkan pekerjaan nantinya.

Oke, balik lagi ke acara Japan edufest.

Acara kemaren itu kurang rame. Intitusi pendidikan yang berpartisipasi hanya empat, itu juga tiga diantaranya ternyata college untuk japan language, hanya satu uni nya. Tapi, itu ga mengurangi manfaat dan keasyikan yang kita dapet disana. Ada sharing dari berbagai pihak, ada dari instruktur bahasa jepang, dari penyelenggara acara yang adalah orang indo tapi bermukim di jepang, juga ada dari pengamat sistem pendidikan di Jepang.

Fidel terkesan dengan sejumlah orang dari Jepang yang hadir dan presentasi disitu. Mereka presentasi dengan bahasa Jepang, lalu tiap kalimat diterjemahkan oleh penerjemah yang berdiri disampingnya. Selain itu juga ada pameran mengenai korespondensi jaman dulu, dengan kartu pos dan perangko, juga bazaar tentang origami dan si kucing cantik hello kitty.

Tiga college jurusan japanese language dan satu uni, share mengenai biaya kuliah, biaya hidup, juga berbagai aspek kehidupan disana, termasuk kemungkinan bekerja part time. Yang menyulitkan buat kita adalah terus terang bahasanya, penerjemah membuat acara sharing kurang personal, kurang khas. Apalagi brosurnya juga in kanji bo, jadi ga nikmat deh bacanya.

Fidel suka suka aja sih disana, Bella juga. Suasananya dingin kan ya, jadi anak anak ga rewel. Fidel menikmati pameran filateli dan kartu pos, dia menikmati aksen yang diucapk para orang jepang itu, hanya saja materi yang disampaikan terlalu panjang, setelah lebih dari 30 menit, si boy pun bosen. Yang paling dia sukai adalah kesempatan untuk mendapatkan namanya ditulis dalam hiragana, atau katakana, ga ngerti juga, hahahahaha

IMG_20140829_075512[1]

IMG_20140829_075122[1]

Biaya kuliah di UNITAS, Jepang

Biaya kuliah di UNITAS, Jepang

IMG_20140823_113540

IMG_20140823_113032

IMG_20140823_120752

IMG_20140826_151402

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s