Refleksi Tiga Tahun

Satu februari tahun duaribu sebelas adalah hari pertama gua ga ngantor, hari pertama gua setelah resign dari kantor terakhir tempat kerja.

Dan sekarang satu februari duaribu empat belas pas tiga tahun gua berhenti kerja. Belum pernah gua secara khusus mengenang perjalanan baru ini selama tiga tahun terakhir, dan tulisan ini gua buat hanya untuk diri sendiri, sebagai pengingat tapi juga sebagai pendefinisi.

Faktor utama gua memberanikan diri untuk berhenti kerja adalah Fidel. Waktu itu Fidel sebenernya juga udah mulai gede, engga nangis jerit jerit juga kalau kita berangkat kerja, tapi mungkin justru disitu pemicunya. Gua (mungkin) takut bahwa Fidel sedang mengembangkan tahap ignorant akut. Entah itu bener atau engga, rasanya gua ga akan pernah tau (karena gua pan resign)

Yang jelas, gua pertaruhkan semua yang gua punya, atas nama cinta. (Ciyeeeee)

Mau mulai dari mana bingung, karena lulus kuliah, hanya ada satu dalam pikiran gua, pengen buru buru kerja. Kenapa? Ga tau juga. Abisnya semua temen gua maunya gitu. Orangtua gua maunya gitu. Kebisaan apalagi yang gua punya dan mendatangkan uang, selain mulai kerja dan digaji. Jadi, seumur hidup gua, ga pernah terlintas dipikiran gua untuk berhenti kerja.

Tapi, mungkin sayangnya adalah, karena terlalu default, gua ga sempat punya fase dimana gua bangga terhadap pekerjaan gua, gua ga ada passion kesitu. Orangtua gua ingin gua kuliah disitu hanya supaya gua bisa cepet dapet kerja dan ga jadi pengangguran. Bahkan, sedih gua bilang, gua ga punya passion dan pride yang dibutuhkan sebagai manusia dalam menjalankan pekerjaan gua. Yang gua butuhkan hanya duitnya, cemen? Banget

Saking ga ada passion dan pride, membuat gua low self esteem, dan (menurut gua sih ya) membuat gua mandeg. Semandeg2nya! Sembilan taun gua kerja disatu company dengan kenaikan posisi apalagi gaji yg minim. Temen-temen gua satu persatu melanglang buana, naik posisi dan gaji seiring dengan passion, interest, persistency, dan hard work mereka. Dan mereka berhak setiap sen gaji mereka. Sementara gua begitu-begitu aja.

Kenapa begitu? Waktu itu gua coba refleksi, dan muncul dengan satu pemikiran bahwa mungkin hal itu terjadi karena gua adalah safety player. Gua sepertinya ogah melangkah disaat gua ga tau seratus persen kemungkinan yang akan terjadi. Gua hanya mau yang pasti-pasti aja. No risk no gain padhal kan? Yang memperparah adalah situasi no passion no pride ini sepertinya membuat orang menilai rendah gua. Orang yg low self esteem kan terima2 aja diblame, dibully, diapain deh. Yang terakhir bahkan setaun sebelum gua mutusin resign, someone stabbed me in the back nearly got me killed, not literally.

Tapi, semua itu ga bisa menjelaskan keputusan gua yang mendadak. Gua inget banget suatu pagi yang ga hectic, tumben2nya mantan bos gua ngajak ngobrol tentang gua. Kurang lebih dia nanya gua liburan akhir taun mau kemana, eh gua kok ya jawabnya minta resign di akhir taun. Bos gua saking ga nyangka langsung nolak permintaan gua, yang mana akhirnya dia ngebolehin gua resign setelah ada penggantinya.

Itu adalah pertama kalinya gua memutuskan hal gila by heart, sesuatu yang harusnya gua lakukan di awal umur dua puluh tahun untuk hal berbeda, tapi gua lakuin di awal umur tiga puluh tahun untuk hal yang penting.

Keluarga gua ga support. Orang ornag terdekat gua ga support. Banyak yang menyayangkan keputusan ini karena katanya company tempat gua kerja itu bagus banget, banyak orang pengen kerja disitu tapi gua malah resign dari situ tanpa punya pegangan company lainnya malah dirumah aja.

Tapi, kalau ada satu hal yang masuk akal terhadap keputusan gila ini, itu adalah Fidel. Saat itu Fidel mau usia lima tahun, dan gua mau ada untuk dia sebagaimana dia selalu ada dalam hati gua, at all cost.

Saat kerja sebenernya gua ga terlalu sibuk, gua ga ambisius, terima2 aja, sehingga ga lembur juga. Fidel selalu punya sosok kita di weekend, juga malem hari. Kebetulan juga masa muda gua juga bahagia jadi gua ga ada sindrom kurang nongkrong disaat udah punya anak. Puas banget gua nongrong dan dugem saat dia belum lahir. Dan memang gua sahabatan sama bapaknya jadi, sesekali kita titip dia ma eyangnya, trus kita dugem deh berduaan. (Suit suit, dugeeemmm, istilahnya itu lho)

Long story short, keputusan resign gua juga bukan didrive oleh protes dari Fidel krn ditinggal kerja, walaupun dia alasan utamanya.

Jadi balik lagi, gua flashback, tiga taun lalu pada tanggal satu februari, gua bangun sebagai orang yang berbeda yang gua jalanin setidaknya selama sepuluh tahun terakhir.

Dan selama tiga tahun terakhir ini, gua merasakan sebagai pribadi yang hidup dengan passion, dengan pride, tapi juga dengan persistency dan hardwork. Selapis demi selapis, gua mengupas diri, sembari terus tumbuh. Kadang ada saat saat dimana gua pingin nyerah, tapi ada saat saat juga dimana gua merasa bisa.

Yang pasti saat ini gua baru merasakan berjuang demi sesuatu yang worth living for. Bukan suatu kondisi default, sehingga rasanya flat, bahkan rasanya emosional banget. Ada airmata, ada tawa, ada sakit, ada senang, ada hidup baru, hidup yang sepadan dengan perjuangannya, dan hidup yang pantas diperjuangkan. Love you kids, Fidel dan Bella, mmuahh.

1555575_10152167952597230_737869545_n

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s