Cita cita nyekolahin anak keluar negeri Part 2

Menuru gua, ungkapan, Dreams Are For Rookies, itu bener adanya.

But then again, aren’t all we were once one good rookie?? What every rookies need are parents. Kemaren2 gua share mengenai cita cita gua untuk nyekolahin anak keluar negeri di postingan yang ini, https://ichiewangsitfidelbella.wordpress.com/2013/10/07/cita-cita-nyekolahin-anak-keluar-negeri/

Semenjak itu, kita berdua punya visi untuk membantu anak-anak mewujudkan mimpi mereka, apakah mimpi mereka itu tentang sekolah keluar negeri atau tidak, saat ini kita belum bisa jawab. Tapi, saat ini gua banyak browsing, lalu baca2in blog dan web mengenai orang-orang yang menang beasiswa, terpilih jadi pelajar yang mengikuti konferensi pendidikan diluar negeri, kuliah keluar negeri biaya sendiri. Banyak dari mereka testimoni, bahwa orangtua berperan banyak sehingga mereka termovitasi untuk belajar sampai keluar negeri.

Ada yang tulis, setelah apply2, dan terus menerus gagal, dimulai dari apply ASEAN Scholarship, akhirnya pas kuliah dia menang beasiswa satu tahun ke Jepang. Dari usia kira-kira 14-15 taun bow, ga berhenti berjuang sampe udah kuliah. Dia bilang, gagal udah ga terhitung, tapi yang bikin dia tetep semangat adalah karena memang dia pengen banget, karena sedari kecil sering dibawa Ayahnya untuk nonton pameran pendidikan keluar negeri, bahkan Ayahnya sampe cariin dia video2 mengenai kuliah diluar negeri seperti apa. Dia inget dia terpesona, kuliah ke Swiss, karena ada satu sekolah yang asramanya menghadap pegunungan yang indah. Dang!

Ada juga blog yang share contoh motivation letternya yang bikin dia menang, sekaligus share bahwa motivasinya untuk apply beasiswa adalah karena sewaktu kecil dia inget diajak orangtuanya ngunjungi negara2 lain, dan dia pengen kesana lagi dengan usaha sendiri. Dang!

Blog lain lagi tulis, saat kuliah, dia menang kesempatan menghadiri International Student Week in Ilmenau, bermodalkan kemampuan dia menulis essay dengan topik yang sudah ditentukan. Ada beberapa pilihan topik, dan dia pilih salah satu. Anak itu mencatat dia sudah 15 kali mengirim essay ke berbagai kegiatan internasional dan semua gagal. Dia bilang, setiap kegagalan dia ambil hikmahnya untuk bisa membuat essay yang lebih baik lagi. Dang!

Kalau anak-anak berhasil pada percobaan pertama mereka, itu berkah Tuhan. Kalau mereka berhasil pada percobaan keduapuluh mereka, itu juga berkah Tuhan. Kalau mereka tidak perlu merasakan deg2annya apply scholarship, karena kita berangkatin pake duit sendiri, itu juga berkah Nya. Kita ga punya andil didalam hal itu sekarang, itu hal NANTI. Yang kita punya adalah SAAT INI, saat anak-anak masih kecil-kecil. Saat motivasi bisa kita bungkus dalam kegiatan jalan-jalan. Saat memberi inspirasi bisa dilakukan sambil fieldtrip. Saat membahas mimpi bisa dilakukan dalam perjalanan menghadapi macet. Dan saat doa untuk mereka masih bisa kita naikan sambil mendekap erat mereka yang lelap dipelukan kita. Aish, nulis posting malem2 sih, jadi haru biru gini sik.

Jadi, intinya, kita punya goals yang kita sepakati berdua (kita itu gua sama Wangsit dong ofkors), yaitu nyekolahin anak-anak keluar negeri. Tapi kl boleh berharap dan milih, kuliahnya jangan jauh2, cukup sampe spore aja plis, takut kangen. LOL.

Dan, kita udah sepakat, objectives harus aksi nyata. Sesuatu yang dibangun bersama-sama, orangtua-anak. Tiap langkah besar kita pecah jadi langkah kecil. Tiap potongan besar kita potong jadi potongan kecil. Saat ini, ada beberapa hal yang ada dalam pikiran kita.

Pertama, kita percaya bahwa mengekspose anak-anak dengan tujuan-tujuan belajar luar negeri bisa disebut langkah awal. Kalau dapet kesempatan ke spore lagi, kita pengen tambahin kunjungan ke SMU atau NUS. Pernah kita nginep di Carlton Hotel persis samping Administration Buildingnya SMU lhoh. *apa siiih

Tapi, mungkin langkah pertama lebih tepat saat mereka udah lebih dewasa, mungkin masa pra remaja bagus juga untuk langkah pertama. Jadi kita coba langkah kedua.

Kedua, kita coba untuk rutin ikut pameran pendidikan keluarg negeri yang rutin diadain di Jakarta. Kalo yang ini, beneran deh perlu sedari kecil. Karena sekalian kita bisa intip dan update dengan tuition fee nya. Kalau udah pre teen baru ikut, nanti bisa pingsan juga baca list biayanya. Kalau catalog mengenai sekolahnya bagus2 dan tebel berwarna ya. Giliran list biayanya dilembaran stensilan bow, itu juga ga banyak, cepet abis, bahkan beberapa Uni atau College ga nyetak. Mereka kasih tau harganya kalau kita tanya.😐

Ketiga, bagus juga kalau kita melibatkan diri di acara yang banyak diadain kedutaan di Jakarta. Untung juga ya kalau tinggal di Ibu Kota. Paling engga, kalau mau ikut acara2 kedutaan itu relatif deket.

Langkah ketiga ini mulai kita wujudkan. Sekarang gua mulai buka mata lebar-lebar untuk fanpage FB nya Erasmus Huis kedutaan Belanda. British Council untuk UK dan AtAmerica untuk USA dan mungkin beberapa kedutaan lain. Baru tau, ternyata kedutaan India itu sebelahan ma Kedutaan Belanda, dan kedutaan India banyak acara juga, contohnya pas lewat sana, gua baca mereka ngadain nonton bareng gratis film india disana, Hah, how about that? *nyengir sambil ngunyah bawang putih mentah

Hari ini kita coba ikut acara di Erasmus Huis. Mengenai sejarah kereta api di Indonesia, sekalian liat-liat info di kedutaan. Ada info les bahasa Belanda, info kuliah di Belanda, dan terakhir, hiiy ogaaah, info mengenai menetap di Belanda. Kunjungan kesana tadi, membuat Fidel banyaaak banget nanya.

“Ma, Belanda tuh ini ya?” sambil nunjuk peta Belanda. “Iya” “trus Indonesia sebelah mana?”

“Belanda itu yang bikin kereta api di Indonesia ya?” “Kedutaan itu apa sih Ma?” “ini pasti seragam masinis jaman dulu ya Ma” sambil hampir salah nunjuk pak sekuriti yang berdiri jejer2 ma manekin yang pakek seragam masinis jadul, hahaha LOL

Menurut kita, diusia sekarang ini, kalau kita bawa dia ke Belanda langsung (duile, jauh dan mahal kali cuy) sama ngunjungi Erasmus Huis secara rutin, akan memberi efek  yang relatif sama. Karena, kalau ke Belanda kan ga bisa sesering kita ke Erasmus Huis. Padahal, kalau mau banyak tau mengenai Belanda aja, dalam setaun pasti adalah beberapa acara yang memperkenalkan negara itu. Tadi aja kita dapet selebaran mau ada festival kue2 khas Belanda di akhir bulan Oktober.

Tiga langkah diatas itu menurut kita sifatnya seremonial, ada juga langkah lain yang sifatnya lebih rutin.

Empat, kita mencoba membiasakan Fidel, dan Bella nantinya, untuk bisa mengekspresikan diri melalui tulisan. Sepele keliatannya, tapi buat kita ini esensial. Sederhananya aja, ternyata untuk apply beasiswa, beberapa institusi memberi syarat para calon menulis motivation letter atau personal statement letter. Intinya, kita harus bisa mengemas keunggulan kita dalam satu essay, yang ujungnya akan membuat juri/panitia merasa yakin bahwa kita orang yang tepat untuk mendapat beasiswa itu.

Untuk langkah keempat ini, kita mulai dengan buku harian. Sebenernya, Fidel udah dengan sendirinya bikin buku harian. Dia minta satu buku tulis kosong, yang tiap hari dia isi dengan pernyataan perasaannya, seperti begini: Hari ini aku senang. Hari Kamis.

Sederhana banget deh, tapi gua inget gua baru punya buku harian itu SD kelas empat atau kelas lima gitu. Not bad lah kalau Fidel mulai di usia 7 taun. Pelan-pelan akan gua monitor, dan karena buku nya belum jadi buku rahasia dia, maka sembari baca biasanya gua coba kasih komentar biar lebih berkembang.

Yah, sementara segitu dulu langkah yang bisa kita pikirin. Langkah-langkah yang lebih kecil lagi dari itu, susah mau dishare, karena terintegrasi dengan kehidupan sehari-hari, nyelip di rutinitas kita.

IMG00424-20131019-1359

 

IMG00407-20131019-1346

IMG00414-20131019-1353

Ini foto2 hasil kunjungan ke Erasmus Huis.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s