Cita-cita nyekolahin anak keluar negeri

Jangan cuma bisa tanya,”kalau udah gede nanti mau jadi apa?”

Jargon iklan itu menohok banget, krn menurut gua banyak benernya dan kemungkinan banyak orang mengalaminya.

Gua inget waktu SMA pernah termimpi-mimpi bisa lanjut sekolah ke universitas diluar negeri, dan lupa juga gimana caranya kok gua bisa punya brosurnya. Brosur mengenai suatu universitas di ostrali. Itu brosur gua sayang2, tiap malem gua pandangin sambil berkhayal. Entah krn ngayal dimalam hari ya, rasanya khayalan itu makin lama makin mendekati kenyataan. Sampai akhirnya Mama liat brosur itu, dan dengan wajah yg melembut nyokap bilang bahwa sepertinya keinginan gua itu terlalu berat buat nyokap wujudkan.

Lebih dari lima belas taun kejadian itu berlalu. Dan gua ga pernah menyimpan akar pait mengenai impian gua yg bak pungguk merindu bulan itu. Tapi, gua ga lupa bahwa pengalaman sekalipun pait atau buruk adalah suatu pelajaran yang berharga.

Fidel baru umur tiga taun waktu gua ajak dia ke pameran pendidikan dia yang pertama. Waktu itu pameran pendidikan hanya untuk uni yg ada di ostrali. Mulai dari UNSW, Monash, Tasmania Uni, dll. Brosur dan booklet yang dibawa pulang setumpuk, mulai dari booklet tentang foundation school sampe brosur dari IDP.

Yang Fidel inget ofkors hanya ruangan yg dingin dan nyaman, lainnya engga. Tapi, dari situ gua tersadar bahwa nyekolahin anak ke universitas, Atmajaya, katakanlah, butuh sekitar lima puluh sampai enam puluh juta di taun pertama. Yang mana kira2 tujuh belas taun dari sekarang angka itu kena inflasi jadi sekitar lima ratus juta. Dan kl mau ke Oz kira2 akan butuh sekitar dua sampe tiga ratus juta ditaun pertama, yang bisa bengkak jadi sekitar satu koma dua milyar pada waktu tujuh belas taun dari sekarang.

Astaga, STRESS!

Dan itu belum hitung biaya lain misalnya airplane tickets and family accomodations, unless we plan to leave the boy alone and not to pay him a visit for a whole year.

Kita berhitung jungkir balik mencoba memastikan apakah kita punya dananya tujuh belas taun dari saat itu.

Seiring waktu, gua menyadari sulitnya cari tiket ke Oz on peak season, juga tingginya tingkat ketidakpulangan temen2 yg kesana utk kuliah dan akhirnya ngajuin PR disana, membuat gua resah memikirkan akan melepas satu2 nya anak gua kesana. Gong finalnya adalah kelahiran adek perempuannya. Kita prinsip, laki laki ataupun perempuan, tiap anak berhak mendapat hak pendidikan yang sama. Jangan karena perempuan, ga dikasih akses pendidikan sama dengan yang laki laki. Tapi pikir2 berat bo nguliahin dua anak disana, kl dua anak disana biasanya nyewa apartment disana, astaga meuni mahal bin ribet.

Akhirnya mulailah kita lirik spore buat tempat alternatif. Kita pernah makan di salah satu hawker food di spore, dan ngeliat anak2 entah NUS atau SMU, mereka lagi seseruan makan disana, dan kita pikir, spore enak juga ya, relatif deket dan aman, merupakan melting pot juga, cocok jg buat iklim belajar, dan  universitasnya banyak juga yang bagus, apalagi kl kangen mau nyamperinnya ga terlalu sulit dan jauh.

Seiring waktu, gua jadi sering visit web universitas yang di singapur. Beli buku-buku mengenai kuliah di luar negeri. Bolak balik ngitung future value dari tuition fee yang puluhan ribu SGD pertaun. Perjalanan yang melelahkan itu akhirnya membuat gua sampe juga ke scholarship.

Scholarship begitu menarik buat gua bukan semata-mata karena unsur gratisnya. Gua menyaksikan banyak dilingkaran lingkungan gua, temen atau orang yg gua tau dan kenal, kuliah keluar negeri dikirim orangtuanya dan pulang2 atau ga pulang2 dan clueless. Rupanya penting juga buat yg mau kuliah keluar negeri untuk memantapkan definisi dirinya, apa yang mau dia lakuin dalam hidup dan ga berangkat kuliah keluar negeri only by default.

Akhirnya, kita sepakat, kuliah keluar negeri atau engga, Fidel harus bisa menemukan passion nya ada dimana dulu. Tapi, kita tetep merasa perlu buat anak kita melihat luar negeri seperti apa pada saat masa krusial pembentukan dirinya.

Ada ungkapan, if the world is a book, and if you never go abroad then you are only staying in page one. Yah, enggres nya more or less ya, kekekekkk

Akhirnya, kita sekarang mencoba pendekatan lain, yaitu mencoba membangun mimpi sekeping demi keping. Kita belum tau bentuknya finalnya akan seperti apa, biar Fidel dan Bella yang akan menyelesaikan bentuknya, karena ini memang tentang hidup mereka masing2.

Saat ini, sembari berusaha mengumpulkan uangnya, kita juga rajin bawa dua anak itu ke pameran pendidikan. Selama disana kita mengumpulkan brosur, juga mencoba utk mmembangun kebiasaan melalui diskusi ringan,  memberi sudut pandang dan pengalaman baru, mencoba menumbuhkan kecintaan pada suatu usaha terus menerus demi mencapai sesuatu.

Poin pentingnya buat kita adalah, kuliah keluar negeri akan memberi insight yang bagus untuk anak muda, kita sebagai orangtua menyadari bahwa tapi apakah dengan scholarship atau tidak itu, bahkan kuliah keluar negeri atau engga, itu tergantung Tuhan YME.

Saat tulisan ini dibuat, sudah ada dua event yang Fidel hadiri dengan sadar (kalau dulu kan masih terlalu kecil tuh) Pertama Singapore Edu Fair. Kedua World Education Expo 2013.

Kita berencana untuk hadir setiap taun di beberapa event. Mencoba membantu anak2 mengumpulkan tiap keping kehidupan mereka. Mencoba memberi mereka kerangka berpikir bahwa impian harus disadari dan dibangun sedari kecil, dan bahwa mencapai suatu impian bisa ditempuh dengan langkah kecil kecil dulu, small bites, small portions with  smart moves.

Sehingga, moga2 mereka ga perlu mengalami apa yg gua dan mungkin anak lain banyak alami. Udah bukan lagi jamannya ketidaktauan apalagi kurangnya biaya bisa menghalangi cita-cita.

Strive for excellence itu bukan suatu kebiasaan yang bisa dibangun dalam semalem, juga bahwa jangan sampe mereka dininabobokan dengan ide menemukan universitas yang mereka impikan itu bukan tanggung jawab mereka juga.

Waktu pertama kali ngajak Fidel ke pameran pendidikan, yang berkesan buat dia adalah ruang pamerannya bagus. Pertama kali dia terbengong2 liat konsultan pendidikan ngomong enggres ke orangtuanya yg ber uh-uh sok ngerti. Ditanya “how old are you?” dengan native accent membuat dia salah denger dan mengartikan. Tapi, dia bersemangat disana karena aura ruangan itu begitu positif, hampir mirip dengan suasana gegap gempita pertemuan MLM yang suka ampe bawa naik mobil sportnya keatas panggung itu, dan bilang itu hasilnya yg sepadan, haha.

Pameran pendidikan kedua, skalanya lebih besar, anak2 pakaian seragam SMA berjubelan masuk dibalai kartini untuk melihat World Educatioin Expo 2013. Dia rada cranky krn jadi satu2nya anak pakai seragam yang jelas2 bukan anak SMA, melainkan anak SD.

Tapi, dia jadi tersadar bahwa dia bisa kuliah dimana aja didunia, termasuk di china, korea dan jepang. Fidel juga sadar bahwa booth Singapore adalah salah satu yang paling ramai dikunjungi. Dan booth Malaysia adalah salah satu yang paling sepi.

Kita ga tau akan terbentuk seperti apa tiap-tiap kenangan pameran pendidikan yang kita bawa ke Fidel, tapi yang jelas kita ga akan berhenti berusaha. Kita akan terus ajak dia, membangun dialog , memberi pengalaman, mencoba menumbuhkan benih2 baik sembari berdoa.

Tuition Fee NUS 2013

Tuition Fee NUS 2013

IMG00244-20130929-1614

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s